Kondisi Umum Desa

Potensi Sumber Daya Alam

GAMBARAN UMUM KONDISI DESA

        Kondisi Umum Desa

Desa Sumberbening, Kecamatan Bringin , Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur  merupakan satu  dari 10 desa di Kecamatan Bringin  yang mempunyai jarak 21 km dari kota kabupaten Ngawi. Secara geografis Desa Sumberbening terletak berbatasan dengan:

Sebelah Utara : Desa Kali Wekas Kec. Sekar Kab, Bojongoro

Sebelah Selatan : Desa Jatipuro Kec.Karangjati, Kab. Ngawi

Sebelah                      Sebelah Timur : Desa Ploso Lor Kec. Karangjati, Kab. Ngawi

Sebelah                      Sebelah Barat   : Desa Mojo, Bringin Kec. Bringin Kab. Ngawi

Letak topografis tanahnya datar, dengan lahan sebagian besar dimanfaatkan oleh masyarakat untuk lahan pertanian, perkebunan dan perikanan sehingga sebagian besar masyarakat desa adalah petani dan petani penggarap.

Sejarah Desa

Desa Sumberbening awalnya bernama desa Blobo yang mengandung arti bahwa warga desa Blobo suka memberi / sedekah / shodakoh.

Sejarah desa Sumberbening tidak terlepas dari sejarah masyarakat Samin yang ada di wilayah kabupaten Ngawi. Dimana cerita mengenai Masyarakat Samin ini berawal dari masa penjajahan Belanda. Istilah Samin berasal dari sebuah julukan yang diberikan kepada putra R. M. Adipati Brotodiningrat (Adipati Somoroto wilayah Tulung Agung) yang bernama Raden Surowijoyo / R. Surosentiko / R. Suratmoko. Beliau diberikan julukan Samin oleh masyarakat yang artinya adalah “sami-sami Amin” yang mengandung makna bahwa bila semua setuju maka dianggap syah karena mendapat dukungan rakyat banyak atau pada jaman sekarang lebih dikenal dengan “Musyawarah Mufakat”. Dengan berbekal Samin tersebut akhirnya Raden Surosentiko melawan penjajah dengan cara merampok orang kaya yang menjadi kaki tangan Belanda dan hasilnya dibagikan kepada masyarakat miskin. Cara-cara yang diajarkan oleh Raden Surosentiko ini dilanjutkan perjuangannya oleh putranya yang bernama “Ki Samin Surosentiko” atau lebih dikenal dengan Raden Kohar.

Perjuangan Raden Kohar dilakukan dengan gerilya dan berpindah-pindah tempat sampai akhirnya sebagaian pejuang bermukim di desa Njepang, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro. Beranak pinak di desa tersebut sampai sekarang sudah turun ke 4, 5. Raden Kohar sendiri menurut cerita mbah “Harjo Kardi” sebagai cucu Raden Kohar bahwa akhirnya Raden Kohar / Raden Samin Surosentiko ditangkap oleh Belanda dan dipenjara di Padang Sumatra Barat yang akhirnya meninggal dan dimakamkan di Padang. Warga Samin terkenal dengan masyarakat yang lugu, jujur dan terbelakang namun sangat gigih melawan penjajah Belanda. Dengan cara yang halus seperti tidak mau membayar pajak / upeti, tidak mau kerja bakti, apabila punya tanaman / sayuran dibeli tidak boleh tapi kalau diminta malah diberikan, dan lain-lain. Tokoh Samin yang masih tinggal di desa Blobo adalah “Mbah Wono Leksono dan Mbah Rono Sono” yang nota bene adalah teman dekat bapak Ir. Soekarno Presiden RI ke 1 yang juga dikenal ketokohannya sampai ke daerah Jawa Tengah, Jawa Barat bahkan luar Jawa.

Seiring berkembangnya waktu setelah kemerdekaan RI, sekitar Tahun 1954 pada masa kepemimpinan Lurah bapak Sastro Sudarmo (1934 – 1983) desa Blobo diubah namanya menjadi desa Sumberbening. Perubahan nama desa ini didasarkan / terinspirasi adanya potensi sumber daya alam yang sangat besar di desa ini terutama sumber air alami berupa sendang antara lain :

  1. Sendang Ponggolo di dusun Popohan
  2. Sendang Rondokuning di dusun Sumberbening 4
  3. Sendang Kembar di dusun Sumberbening 4
  4. Sendang Pancuran di dusun Sumberbening 3
  5. Sendang Mbulu di dusun Kedungceleng
  6. Sendang Belikwatu di dusun Belikwatu

Yang terkenal dengan sumber airnya yang sangat jernih / bening, mendasar hal tersebut akhirnya desa Blobo dirubah / diganti nama menjadi desa Sumberbening.

Masyarakat desa Sumberbening menganut keyakinan yang beragam, sebagian menganut aliran kepercayaan, sebagian beragama Nasrani (Katholik) dan mayoritas beragama Islam. Islam masuk desa Sumberbening sejak sebelum kemerdekaan RI tahun 1945 yang dibawa bapak Kyai Khasan, bapak kyai Amat Suleman di wilayah Kedungceleng yang kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya bapak Kyai (Bakri, Kusen, Siswo Wiyono, Sarpan dan Muhni), yang akhirnya berkembang ke seluruh wilayah desa Sumberbening dan muncullah kyai-kyai muda seperti Romo Kyai (Abdul Khamid, Muh. Ridwan, Kamim, Lantif, Pardi dan lain-lain) dan memimpin 3 Masjid dan ± 30 Musholla di desa Sumberbening ini.

Sedangkan agama Nasrani / Katholik masuk ke desa Sumberbening pada era pemerintahan bapak Lurah Sastro Sudarmo sekitar tahun 1950 dan kemudian berdirilah sebuah Gereja di wilayah dusun Sumberbening IV. Walaupun ada beberapa keyakinan / agama warga Sumberbening dapat hidup guyub rukun berdampingan penuh dengan toleransi. Dengan semangat menjaga “Persatuan dan Kesatuan” masyarakat desa Sumberbening bertekat membangun desa sehingga dapat terwujudnya kesejahteraan dan kemakmuran yang berkeadilan di desa Sumberbening ini.

Tidak banyak yang tahu tentang berapa Lurah / Kades yang sudah pernah memimpin desa Sumberbening, namun dari penggalian informasi yang kami lakukan kebeberapa nara sumber sesepuh desa dan tokoh masyarakat, paling tidak desa Sumberbening sudah mengalami 7 (tujuh) periode kepemimpinan Lurah / Kades yaitu :

Periode IPeriode IIPeriode IIIPeriode IVPeriode VPeriode VIPeriode VII                     (s/d – Thn 1934) (Thn 1934 – Thn 1983) (Thn 1983 – Thn 1991) (Thn 1991 – Thn 1999) (Thn 1999 – Thn 2007) (Thn 2007 – Thn 2013) (Thn 2013 – Thn 2019)      Oleh Oleh Oleh Oleh Oleh Oleh Oleh Lurah Mangun Barjo / Mangun Reso Lurah Sastro Sudarmo Kades Djamini Hadi Suprajitno Kades Djamini Hadi Suprajitno Kades Wardjo Kades Mashudi Kades Hanif Hernawan

Sumberdaya alam desa Sumberbening terkenal sangat subur khususnya di bidang pertanian (padi dan polowijo). Mata pencaharian masyarakatnya mayoritas petani, sebagian pekebun, pedagang, pengrajin, dan PNS. Apalagi di bidang pertanian khususnya irigasi sudah ditunjang adanya waduk Sangiran, sehingga petani dalam 1 tahun dapat panen 3 kali, bahkan sekarang ada yang 4 kali panen.

Untuk mewujudkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat desa Sumberbening melaksanakan tradisi Sedekah Bumi, Nyadran atau Bersih Desa yang bertepatan pada hari “Jum’at Pahing” yang setiap tahunnya diperingati warga desa, dan tahun ini tepat pada tanggal 21 Juli 2017.

Demikian sejarah Desa Yang terkumpul saat ini, data dan masukan selalu di tunggu untuk sejarah desa yang valid dan akuntable.

Keadaan Sosial

Dilihat dari keadaan sosial masyarakat, Desa Butuh secara umum penduduknya hidup di atas garis kemiskinan. Dari penduduk desa Butuh yang terdiri dari 2604 (KK) terdiri dari beberapa lapisan golongan tingkat kehidupan. Keadaan sosial warga masyarakat Desa Butuh yang sebagian besar bermata pencaharian petani, petani penggarap dan buruh. Antara

Peta  Wilayah

secara topografis Desa Sumberbening yang dapat diuraikan sebagai beriku:

Kondisi Demografi 

Jumlah penduduk Desa Butuh terdiri dari 2604 kepala keluarga (KK) dengan jumlah Rumah Tangga Miskin (RTM) sebanyak 1064 KK.  

Adapun jumlah penduduk menurut dukuh/dusun:

Kondisi Pemerintahan Desa

Pembagian wilayah desa

Wilayah desa Sumberbening terbagi menjadi 10 Dusun dengan 10 Rukun Warga (RW) dan 26 Rukun Tetangga (RT

Struktur Organisasi Pemerintah Desa

Potensi perangkatnya terdiri dari Seorang Kepala Desa (Kades), satu orang Sekretaris Desa (Sekdes), tiga orang kaur,tiga orang Kasi sepuluh Kepala Dusun (Kadus)

Pemerintahan Umum

Pemerintahan Umum di Desa Sumberbening mencakup pelayanan catatan sipil, perijinan, pasar desa, kententraman dan ketertiban.

Pemerintahan umum desa mencakup:

    a.  Pelayanan catatan sipil.

Pelayanan catatan sipil yang di layani Pemerintah Desa Sumberbening meliputi pembuatan Kartu keluarga (KK), Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Kelahiran, Surat Keterangan Pindah, dan surat pengantar pembuatan SKCK dan lain lain

     b. Perijinan 

    Pelayanan perijinan yang dilayani meliputi ijin keramain, ijin pendirian bangunan, ijin usaha, dan ijin potong hewan besar dan lain lain

Jenis Pekerjaan Penduduk Desa Sumberbening

Sebagian besar mata pencaharian penduduk desa adalah sebagai petani, buruh tani, ada yang merantau dikota, dan dijelaskan keadaan perekonomian masyarakat desa, misal prasarana ekonomi yang ada didesa, pasar, industri rumah tangga. 

Penduduk menurut mata pencaharian terdiri dari petani pemilik lahan ,penggarap tanah, buruh (tani, bangunan, industri), pedagang ,PNS ,TNI/POLRI ,pensiunan ,peternak ,dan sisanya ,adalah orang-orang yang bekerja dibidang lainnya.

GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DESA SERTA PENDANAAN

Keuangan Desa Sumberbening  adalah semua hak dan kewajiban dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban desa Sumberbening. Penyelenggaraan fungsi pemerintahan desa akan terlaksana secara optimal apabila penyelenggaraan pemerintahan tersebut diikuti dengan penerimaan sumber-sumber pendapatan desa yang cukup dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan.

Analisis pengelolaan keuangan desa pada dasarnya dimaksudkan untuk menghasilkan gambaran tentang kapasitas atau kemampuan keuangan desa dalam mendanai penyelenggaraan pembangunan desa.

Pengelolaan keuangan desa dapat diwujudkan dalam suatu APBDesa dan laporan keuangan setiap tahun.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) Sumberbening  merupakan rencana pengelolaan keuangan tahunan pemerintah desa yang disetujui oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam Peraturan Desa. Dalam hubungannya dengan RPJM-Desa, APBDesa merupakan komitmen penyelenggara pemerintah desa untuk mendanai strategi pembangunan pada satuan program dan kegiatan selama kurun waktu 6 tahun.

Arah kebijakan keuangan desa yang diambil oleh Desa Sumberbening  mengandung makna:

a.    Arah belanja APBDesa Butuh digunakan sepenuhnya untuk mendukung kebijakan dan prioritas strategis jangka menengah 6 tahunan;

b. Untuk menjamin ketersediaan dana maka kebijakan pendapatan desa diarahkan untuk mendapatkan berbagai sumber pendapatan yang substansial dan dengan jumlah yang memadai.

Mengingat kebijakan masing-masing komponen APBDesa berbeda, maka kebijakan keuangan desa juga dirinci pada masing-masing komponen tersebut, meliputi kebijakan Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan. Satuan terkecil dari perencanaan strategis adalah program dan kegiatan. Melalui analisis belanja, standar pelayanan, dan standar harga atas komponen belanja tiap kegiatan dapat dihitung kebutuhan belanja. Dengan demikian, arah kebijakan belanja Desa Sumberbening  pada prinsipnya adalah agar belanja dapat mendukung kebutuhan dana seluruh kegiatan, sehingga belanja yang tidak strategis dan tidak mempunyai nilai tambah dapat diminimalisir.

Pada tahap berikutnya, untuk menutup semua kebutuhan belanja, APBDesa harus mengoptimalkan sumber-sumber pendapatannya. Semua potensi pendapatan semaksimal mungkin digali agar mampu menutup seluruh kebutuhan belanja. Kebijakan pendapatan diarahkan agar sumbersumber pendapatan yang mendukung APBDesa selama ini diidentifikasi dengan baik, ditingkatkan penerimaannya (intensifikasi), dan diupayakan sumber-sumber baru (ekstensifikasi) oleh Pemerintah Desa Sumberbening  .

Mengingat bahwa komponen APBDesa menggunakan struktur surplus/defisit, maka selisih antara pendapatan dan belanja dihitung sebagai surplus/defisit dan dialokasikan ke pembiayaan. Dalam hal APBDesa mengalami defisit, maka kebijakan pembiayaan mengupayakan sumber pemasukan kas untuk menutup defisit tersebut (penerimaan pembiayaan).

Sebaliknya, apabila APBDesa mengalami sisa lebih, maka atas surplus tersebut akan dialokasikan dalam pengeluaran pembiayaan pada pos-pos pembiayaan yang diperkenankan dalam peraturan perundang-undangan.

Sumber Pendapatan yang ada di Desa Sumberbening  bisa berupa:

a.    Pendapatan Asli Desa (PAD)

b.    Bantuan dari Pemerintah pusat

c.    Bantuan dari Pemerintah Propinsi (Ban Gub)

d.    Bantuan dari Pemerintah Kabupaten 

e.  Pendapatan lain-lain yang sah

VISI  :  “MASYARAKAT DESA SUMBERBENING LEBIH SEJAHTERA DAN BERAKHLAQ”

MISI :

  • Meningkatkan perwujudan pembangunan fisik dan infrastruktur yang berwawasan pada pelestarian lingkungan hidup 
  • Membangun masyarakat Sumberbening berbasis ekonomi rakyat, pertanian, peternakan-perikanan dan pariwisata untuk meningkatkan pendapatan.
  • Mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan Desa Sumberbening yang bersih, jujur dan transparan dalam pelayanan publik.
  • Memperkokoh gotong royong, guyub rukun, dan kekeluargaan dan tetap melestarikan adat istiadat untuk menciptakan rasa aman. 
  • Meningkatkan partisipasi masyarakat Desa Sumberbening dalam setiap proses pengambilan keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. 
  • Mengembangkan kehidupan beragama untuk meningkatkan akhlaq dan masyarakat yang toleran dan solidaritas yang tinggi.
  • Dukungan pelayanan pendidikan dan ketrampilan dasar, pengembangan tehnologi informasimasyarakan dalam rangka menyiapkan Sumber Daya Masyarakat Yang Bersaing 
  • Pemberdayaan kelembagaan desa, organisasi kemasyarakatan, kepemudaan dan kelompok-kelompok sosial masyarakat lainnya.
  • Peningkatan kesehatan dasar dan pemberdayaan kaum perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan kelurga.
  • Peningkatan kapasitas kader-kader pemberdayaan untuk mempercepat pembangunan. 

 Demikian gambaran umum kondisi Desa Sumbrbening Kecxamatan Bringin Kabupaten Ngawi .