Sejarah Desa Sumberbening

SEJARAH SINGKAT DESA SUMBERBENING
KECAMATAN BRINGIN KABUPATEN NGAWI – JAWA TIMUR

Desa Sumberbening awalnya bernama desa Blobok yang mengandung arti bahwa warga desa Blobo suka memberi / sedekah / shodakoh.

Sejarah desa Sumberbening tidak terlepas dari sejarah masyarakat Samin yang ada di wilayah kabupaten Ngawi. Dimana cerita mengenai Masyarakat Samin ini berawal dari masa penjajahan Belanda. Istilah Samin berasal dari sebuah julukan yang diberikan kepada putra R. M. Adipati Brotodiningrat (Adipati Somoroto wilayah Tulung Agung) yang bernama Raden Surowijoyo / R. Surosentiko / R. Suratmoko. Beliau diberikan julukan Samin oleh masyarakat yang artinya adalah “sami-sami Amin” yang mengandung makna bahwa bila semua setuju maka dianggap syah karena mendapat dukungan rakyat banyak atau pada jaman sekarang lebih dikenal dengan “Musyawarah Mufakat”. Dengan berbekal Samin tersebut akhirnya Raden Surosentiko melawan penjajah dengan cara merampok orang kaya yang menjadi kaki tangan Belanda dan hasilnya dibagikan kepada masyarakat miskin. Cara-cara yang diajarkan oleh Raden Surosentiko ini dilanjutkan perjuangannya oleh putranya yang bernama “Ki Samin Surosentiko” atau lebih dikenal dengan Raden Kohar.

Perjuangan Raden Kohar dilakukan dengan gerilya dan berpindah-pindah tempat sampai akhirnya sebagaian pejuang bermukim di desa Njepang, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro. Beranak pinak di desa tersebut sampai sekarang sudah turun ke 4, 5. Raden Kohar sendiri menurut cerita mbah “Harjo Kardi” sebagai cucu Raden Kohar bahwa akhirnya Raden Kohar / Raden Samin Surosentiko ditangkap oleh Belanda dan dipenjara di Padang Sumatra Barat yang akhirnya meninggal dan dimakamkan di Padang. Warga Samin terkenal dengan masyarakat yang lugu, jujur dan terbelakang namun sangat gigih melawan penjajah Belanda. Dengan cara yang halus seperti tidak mau membayar pajak / upeti, tidak mau kerja bakti, apabila punya tanaman / sayuran dibeli tidak boleh tapi kalau diminta malah diberikan, dan lain-lain. Tokoh Samin yang masih tinggal di desa Blobo adalah “Mbah Wono Leksono dan Mbah Rono Sono” yang nota bene adalah teman dekat bapak Ir. Soekarno Presiden RI ke 1 yang juga dikenal ketokohannya sampai ke daerah Jawa Tengah, Jawa Barat bahkan luar Jawa.

Seiring berkembangnya waktu setelah kemerdekaan RI, sekitar Tahun 1954 pada masa kepemimpinan Lurah bapak Sastro Sudarmo (1934 – 1983) desa Blobo diubah namanya menjadi desa Sumberbening. Perubahan nama desa ini didasarkan / terinspirasi adanya potensi sumber daya alam yang sangat besar di desa ini terutama sumber air alami berupa sendang antara lain :

  1. Sendang Ponggolo di dusun Popohan
  2. Sendang Rondokuning di dusun Sumberbening 4
  3. Sendang Kembar di dusun Sumberbening 4
  4. Sendang Pancuran di dusun Sumberbening 3
  5. Sendang Mbulu di dusun Kedungceleng
  6. Sendang Belikwatu di dusun Belikwatu

Yang terkenal dengan sumber airnya yang sangat jernih / bening, mendasar hal tersebut akhirnya desa Blobo dirubah / diganti nama menjadi desa Sumberbening.

Masyarakat desa Sumberbening menganut keyakinan yang beragam, sebagian menganut aliran kepercayaan, sebagian beragama Nasrani (Katholik) dan mayoritas beragama Islam. Islam masuk desa Sumberbening sejak sebelum kemerdekaan RI tahun 1945 yang dibawa bapak Kyai Khasan, bapak kyai Amat Suleman di wilayah Kedungceleng yang kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya bapak Kyai (Bakri, Kusen, Siswo Wiyono, Sarpan dan Muhni), yang akhirnya berkembang ke seluruh wilayah desa Sumberbening dan muncullah kyai-kyai muda seperti Romo Kyai (Abdul Khamid, Muh. Ridwan, Kamim, Lantif, Pardi dan lain-lain) dan memimpin 3 Masjid dan ± 30 Musholla di desa Sumberbening ini.

Sedangkan agama Nasrani / Katholik masuk ke desa Sumberbening pada era pemerintahan bapak Lurah Sastro Sudarmo sekitar tahun 1950 dan kemudian berdirilah sebuah Gereja di wilayah dusun Sumberbening IV. Walaupun ada beberapa keyakinan / agama warga Sumberbening dapat hidup guyub rukun berdampingan penuh dengan toleransi. Dengan semangat menjaga “Persatuan dan Kesatuan” masyarakat desa Sumberbening bertekat membangun desa sehingga dapat terwujudnya kesejahteraan dan kemakmuran yang berkeadilan di desa Sumberbening ini.

Tidak banyak yang tahu tentang berapa Lurah / Kades yang sudah pernah memimpin desa Sumberbening, namun dari penggalian informasi yang kami lakukan kebeberapa nara sumber sesepuh desa dan tokoh masyarakat, paling tidak desa Sumberbening sudah mengalami 7 (tujuh) periode kepemimpinan Lurah / Kades yaitu :


Periode I

(s/d – Thn 1934)
Oleh
Lurah Mangun Barjo / Mangun Reso

Periode II

(Thn 1934 – Thn 1983)

Oleh

Lurah Sastro Sudarmo

Periode III

(Thn 1983 – Thn 1991)

Oleh

Kades Djamini Hadi Suprajitno

Periode IV

(Thn 1991 – Thn 1999)

Oleh


Kades Djamini Hadi Suprajitno

Periode V

(Thn 1999 – Thn 2007)

Oleh


Kades Wardjo

Periode VI

(Thn 2007 – Thn 2013)

Oleh

Kades Mashudi

PeriodeVI I

(Thn 2013 – Thn 2019)  

Oleh

Kades Hanif Hernawan

Sumberdaya alam desa Sumberbening terkenal sangat subur khususnya di bidang pertanian (padi dan polowijo). Mata pencaharian masyarakatnya mayoritas petani, sebagian pekebun, pedagang, pengrajin, dan PNS. Apalagi di bidang pertanian khususnya irigasi sudah ditunjang adanya waduk Sangiran, sehingga petani dalam 1 tahun dapat panen 3 kali, bahkan sekarang ada yang 4 kali panen.

Untuk mewujudkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat desa Sumberbening melaksanakan tradisi Sedekah Bumi, Nyadran atau Bersih Desa yang bertepatan pada hari “Jum’at Pahing” yang setiap tahunnya diperingati warga desa, dan tahun ini tepat pada tanggal 21 Juli 2017.

Demikian sejarah Desa Yang terkumpul saat ini, data dan masukan selalu di tunggu untuk sejarah desa yang valid dan akuntable.

by : suwandi dl